Friday, 8 November 2013
Sebarkan BBM, BlackBerry Gaet Evercoss
(Minggu, 27/10/2013) Jakarta - Setelah resmi merilis BlackBerry Messenger (BBM) ke pasar Android dan iOS, BlackBerry langsung tancap gas untuk lebih menggenjot penyebaran layanan pesan instan andalannya itu.
Salah satu caranya adalah dengan menggandeng produsen ponsel untuk menjadi BBM Official Partner. Vendor ponsel merek lokal Evercoss jadi salah satunya.
Dengan ditunjuknya Evercoss sebagai partner resmi BlackBerry, maka pengguna ponsel yang dulu bernama Cross ini dianggap akan mendapatkan berbagai keuntungan.
Seperti sudah adanya pre-instal BBM di smartphone dan tablet baru Evercoss. Sehingga konsumen tidak dipusingkan lagi download atau setting BBM di ponsel Android.
Selain itu, perangkat Evercoss sebelumnya juga sudah dites kestabilan aplikasi BBM dan sudah di-approve oleh pihak BlackBerry. Jadi diklaim 100% kompatibel dengan layanan BBM.
Janto Djojo, Chief Marketing Evercoss mengatakan, untuk saat ini ponsel Evercoss yang kompatibel dengan layanan BBM yang sudah beredar di pasar adalah A11, A20G, A22, A26, A27, A28, A88, A7S, A7S Hello Kitty, A66 dan Tablet AT1G.
Event Indocomtech pada 30 Oktober-3 November pun akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengenalkan layanan BBM di ponsel Evercoss.
"Karena kami ditunjuk sebagai BBM official partner, maka kami merasa bertanggung jawab untuk melakukan edukasi secara intensif,” ucap Janto.
Penunjukkan Evercoss sebagai BBM Official Partner, imbuh Janto, sejalan dengan campaign Go’ international. “Salah satu syarat tidak tertulis untuk Go international adalah pengakuan dari dunia, dalam hal ini BlackBerry. Pengakuan ini sebagai langkah positif kami untuk terus memantapkan diri di pasar lokal maupun global, ” Janto menandaskan.
sumber : http://inet.detik.com/read/2013/10/27/110032/2396501/317/sebarkan-bbm-blackberry-gaet-evercoss
Analisis
Karena banyaknya pengguna Android dan iOS yang menginstal BBM, BlackBerry menunjuk secara resmi brand asal lokal, yaitu Evercross atau lebih di kenal dengan Cross sebagai BBM official partner, untuk membantu BlackBerry dalam penyebaran layanan pesan instan adalan BlackBerry yaitu BlackBerry Messenger. Menjadi BBM official partner merupakan keuntungan bagi pihak Cross sendiri karena sudah adanya pre-instal BBM di smartphone dan tablet baru Evercross. Dengan begitu smartphone lokal ini dapat bersaing di pasaran dengan mengandalkan aplikasi BBM yang sudah pre-instal, tanpa merepotkan pengguna untuk mendownload lagi.
Friday, 1 November 2013
BBM Lintas Platform: Dari 10 Juta DownloadHingga Review Palsu
Awal pekan ini, pengguna iPhone dan handset Android yang menantikan BlackBerry Messenger lintas platform bisa segera menginstal aplikasi tersebut. Tak lagi pending, tapi tetap ada cerita di balik kehadiran BBM ini.
Ceritanya pun tetap mengandung pro dan kontra. Ini tak terlepas dari aplikasi yang tadinya eksklusif di BlackBerry kini bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli handset BlackBerry.
Analisis
Setelah sekian lama menunggu hadirnya aplikasi BBM for android dan iOS kini aplikasi BBM sudah dapat digunakan di smartphone dengan OS Android vs 4.0 ke atas dan iOS dengan secara free. Setelah resmi hadir di Android dan iOS aplikasi BBM, dalam satu hari sudah ada 10 juta pengguna Android dan iOS yang mengunduh. Tampilan BBM yang ada di platform Android dan iOS seperti BlackBerry terbaru yaitu BB Q10, yang sudah mensuport layar sentuh.
di ambil pada : Jumat, 25/10/2013
sumber : http://inet.detik.com/read/2013/10/25/075028/2395105/317/bbm-lintas-platform-dari-10-juta-download-hingga-review-palsu?i991101mainnews
Ceritanya pun tetap mengandung pro dan kontra. Ini tak terlepas dari aplikasi yang tadinya eksklusif di BlackBerry kini bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli handset BlackBerry.
Analisis
Setelah sekian lama menunggu hadirnya aplikasi BBM for android dan iOS kini aplikasi BBM sudah dapat digunakan di smartphone dengan OS Android vs 4.0 ke atas dan iOS dengan secara free. Setelah resmi hadir di Android dan iOS aplikasi BBM, dalam satu hari sudah ada 10 juta pengguna Android dan iOS yang mengunduh. Tampilan BBM yang ada di platform Android dan iOS seperti BlackBerry terbaru yaitu BB Q10, yang sudah mensuport layar sentuh.
di ambil pada : Jumat, 25/10/2013
sumber : http://inet.detik.com/read/2013/10/25/075028/2395105/317/bbm-lintas-platform-dari-10-juta-download-hingga-review-palsu?i991101mainnews
Friday, 25 October 2013
Bahasa sebagai alat komunikasi
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi.Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
a) Ragam beku (frozen) : digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
b) Ragam resmi (formal): digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
c) Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
d) Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
e) Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.
Fungsi bahasa sebagai komunikasi
Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif karena dalam berbagai situasi bahasa dapat di manfaatkan. Bahasa itu sendiri adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan (bahasa primer) dan tulisan (bahasa sekunder). Berkomunikasi melalui lisan (dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk simbol bunyi, dimana setiap simbol memiliki ciri khas tersendiri.
Fungsi penggunaan bahasa dalam komunikasi dapat diidentifikasi. Fungsi bahasa dalam komunikasi bisa dijabarkan berdasarkan tanggapan atau respon mitra tutur. Ini terdiri dari dua macam, yaitu:
1. Fungsi transaksional
Yakni apabila dalam komunikasi terdapat isi komunikasi yang amat dipentingkan. Dengan begitu, bahasa dapat digunakan sebagai penyalur informasi. Contohnya : pidato, deklamasi, dan ceramah.
2. Fungsi Interaksional
Yakni penggunaan bahasa yang dimiliki hubungan timbal balik atau interaksi antara penyapa dan yang disapa. Fungsi bahasa ini biasa ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya : Secara lisan adalah debat, wawancara, dan diskusi.
Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi.Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
a) Ragam beku (frozen) : digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
b) Ragam resmi (formal): digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
c) Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
d) Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
e) Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.
Fungsi bahasa sebagai komunikasi
Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif karena dalam berbagai situasi bahasa dapat di manfaatkan. Bahasa itu sendiri adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan (bahasa primer) dan tulisan (bahasa sekunder). Berkomunikasi melalui lisan (dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk simbol bunyi, dimana setiap simbol memiliki ciri khas tersendiri.
Fungsi penggunaan bahasa dalam komunikasi dapat diidentifikasi. Fungsi bahasa dalam komunikasi bisa dijabarkan berdasarkan tanggapan atau respon mitra tutur. Ini terdiri dari dua macam, yaitu:
1. Fungsi transaksional
Yakni apabila dalam komunikasi terdapat isi komunikasi yang amat dipentingkan. Dengan begitu, bahasa dapat digunakan sebagai penyalur informasi. Contohnya : pidato, deklamasi, dan ceramah.
2. Fungsi Interaksional
Yakni penggunaan bahasa yang dimiliki hubungan timbal balik atau interaksi antara penyapa dan yang disapa. Fungsi bahasa ini biasa ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya : Secara lisan adalah debat, wawancara, dan diskusi.
Wednesday, 3 July 2013
BUDAYA ORGANISASI
Definisi
Menurut Tylor
(1871) budaya adalah “sekumpulan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum,
adat, dan kapabilitas serta kebiasaaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai
anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu”. Dalam ilmu sosiologi,
budaya diterjemahkan sebagai kumpulan simbol, mitos, dan ritual yang penting
dalam memanggil atasannya dengan nama belakang. Oleh karena itu, budaya
organisasi tidak hanya sekedar gambaran dari sikap dan kepribadian anggotanya
saja tetapi lebih dari itu. Budaya organisasi dapat ditelusuri secara langsung
kepada variabel – variabel yang berhubungan secara struktural ( seperti :
sistem sentralisasi atau desentralisasi, tingkat interdepedensi, wewenang,
dll).
Fungsi budaya
organisasi
1. Pengikat
organisasi
Budaya
organisasi berfungsi sebagai pengikat seluruh komponen organisasi terutama pada
saat organisasi menghadapi goncangan baik dari dalam ataupun luar akibatnya
danya perubahan.
2. Integrator
Budaya
organisasi merupakan alat untuk
menyatukan beragam sifat dan karakter serta bakat dan kemampuan yang
beragam yang ada dalam organisasi.
3. Identitas
Organisasi
Budaya
organisasi merupakan salah satu identitas dari organisasi tersebut. Sebagai
contoh The Jakarta Consulting Group memiliki identitas organisasi yang
mengutamakan kecepatan dan ketepatan.
4. Energi
untuk mencapai kinerja yang tinggi
Budaya
organisasi juga berfungsi sebagai suntuikan energi untuk mencapai kinerja yang
tinggi.
5. Ciri
Kualitas
Budaya
organisasi merupakan reprsentasi dari ciri kualitas yang berlaku dalam
organisasi tersebut.
6. Motivator
Budaya
yang kuat akan menjadi motivator yang kuat bagi para anggota organisasi.
7. Pedoman
gaya kepemimpinan
Budaya
organisasi yang telah mengakar kuat, dapat menjadi pedoman gaya kepemimpinan
yang sesuai untuk kondisi organisasi yang bersangkutan.
8. Value
enhancer
Budaya
organisasi yang meresap kuat dalam setiap benak anggota organisasi akan menjadi
salah satu faktor yang mampu meningkatkan nilai bagi para anggota, pelanggan,
pemasok, dan pihak lain yang berhubungan dengan organisasi tersebut.
Tipologi Budaya
Organisasi
Secara umum
budaya organisasi terpilah menjadi dua : Budaya Entepreneur dan Budaya
administratif. Budaya Enterpreneur dalam aktivitasnya selalu memfokuskan pada
peluang – peluang baru. Kegiatan operasional yang terjadi dalam perusahaan
sangat dinamis dan membutuhkan sumber daya manusia yang cepat dalam
mengantisipasi perubahan – perubahan internal maupun eksternal. Dibutuhkan
kompatibilitas struktur organisasi dengan budaya agar dapat memperoleh peluang
– peluang baru dan mempertahankan peluang yang sudah ada. Sedangkan budaya
administratif dalam setiap aktifitasnya
lebih memfokuskan pada peluang – peluang yang sudah ada. Konsekuensi logisnya perusahaan membutuhkan prosedur pengendalian
yang cukup ketat untuk mempertahankan peluang yang sudah diperoleh ini.
Deal &
Kennedy memilah budaya organisasi kedalam 4 kategori :
-
The Tough-guy, Macho
Culture
-
The Work Hard Culture
-
The Bet-your Company
Culture
-
The Process Culture
Masing – masing
kategori budaya tersebut akan dijabarkan menurut beberapa unsur penting yang
ada seperti :
·
Derajat resiko dalam
kegiatan usaha
·
Tipe umpan balik yang
diperoleh dari setiap keputusan
·
Tipe perusahaan yang
menggunakan budaya tersebut.
·
Perilaku yang
ditunjukkan oleh tokoh panutan dalam budaya tersebut.
·
Kekuatan sumber daya
manusia.
·
Kelemahan sumber daya
manusia.
·
Kebiasaan – kebiasaan
yang biasa dilakukan oleh tokoh panutan.
Daftar pustaka :
The Jakarta Consulting Group, Corporate & Organizational Culture : The
Concept.
Monday, 3 June 2013
Imbalan dan Hukuman dalam Organisasi
Imbalan
Imbalan atau
kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi
bagaimana dan
mengapa orang-orang bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada organisasi
yang lainnya. Sebagai seorang pegawai/karyawan yang bekerja disebuah
organisasi, baik diperusahaan swasta maupun instansi pemerintah, tentunya
berharap akan memperoleh penghasilan yang cukup guna memenuhi kebutuhannya yang
paling dasar atau primer yaitu kebutuhan fisiologis atau kebutuhan untuk hidup
terus seperti kebutuhan akan sandang, pangan dan perumahan maupun untuk berprestasi,
afiliasi, kekuatan atau aktualisasi diri. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
3 Tahun 1996, imbalan mencakup semua pengeluaran yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk pegawainya dan diterima atau dinikmati oleh pekerja baik
secara langsung, rutinatau tidak langsung.
Menurut
Ivancevich (1998) Compensation is the Human Resources Management function that
deals with every type of reward individuals receive in exchange for performing
organization tasks. Kompensasi adalah fungsi manajemen sumber daya manusia yang
berkaitan dengan semua bentuk penghargaan yang dijanjikan akan diterima
karyawan sebagai imbalan dari pelaksanaan tugas dalam upaya pencapaian tujuan
perusahaan.
Indriyo Gitosudarmo
dan I Nyoman Sudita (1997) mencatat beberapa isu penting yang menyangkut
tentang imbalan yang sering mewarnai kehidupan suatu organisasi. Adapun isu-isu
tersebut adalah sebgai berikut.
1.
Bahwa orang bekerja pada satu
organisasi tertentu adalah di latar-belakangi oleh berbagai alasan atau motif,
dan salah satunya yang sangat dominan adalah untuk menjaring imbalan sebab
dengan imaan yang diperolehnya ia akan dapat memuaskan aneka kebutuhan yang
sering mengejarnya.
2.
Bahwa uang bukanlah
satu-satunya imbalan yang diburu orang dalam bekerja. Ternyata disamping uang
ada pencarian lain yang terkait dengan imbalan yang diimpikan.
3.
Imbalan yang di cari para
pekerja ternyata bervariasi sepanjang waktu, sesuai dengan dinamika perubahan
kondisi yang terjadi dalam kehidupan seseorang.
Jenis-jenis
imbalan
Ilmuan
perilaku membedakan imbalan kedalam dua kategori besar, yaitu:
a.
Imbalan Intrinsik
Yakni jenis
imbalan yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri, atau imbalan yang merupkan
bagian dari pekerjaan itu sendiri. Menurut gibson dan kawan-kawan (1996)
imbalan intrinsik meliputi :
-
Penyelesaian tugas
-
Pencapaian prestasi
-
Otonomi
-
Pertumbuhan pribadi
b.
Imbalan Ekstrinsik
Adalah jenis imbalan yang tidak berrkaitan
dengan pekerjaaan tetapi berasal dari pekerjaan, meliputi:
-
Imbalan finansial
-
Jaminan Sosial
-
Profit- sharing
Faktor – faktor dalam
mementukan pemberian imbalan
Menurut Gary Dessler (1998) didalam
menentukan rumusan rencana tarif upah, terdapat empat faktor yang harus menjadi
pertimbangan, yakni faktor hukum, serikat buruh, kebijakan dan keadilan. Faktor
Hukum dan peraturan perundang-undangan yang harus dipertimbangkan dalam
merencanakan masalah tarif upah, antara lain :
1.
Davis Bacon Act 1931
(Undang-undang Davis Bacon)
Undang-undang yang diberlaku
pada tahun 1931 yang menetapkan tarif upah untuk para pekerja yang dipekerjakan
oleh kontraktor yang bekerja untuk pemerintah federal.
2. Wals-Healey Public Contract Act 1936 (Undang-undang Kontrak Publik Walshealey)
Undang-undang yang
diberlakukan pada tahun 1936 yang menuntut upah minimum dan kondisi kerja bagi
karyawan yang bekerja pada kontrak pemerintah mana saja sejumlah lebih dari
$10.000. Undang-undang ini berisi ketentuan upah minimum, jam maksimum, serta
keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Fair labor Standards Act 1938 (Undang-undang Standar Kerja yang Adil).
Undang-undang ini mengatur
upah minimum, jam maksimum, pembayaran waktu lembur, pembayaran yang adil,
penyimpanan catatan, dan ketentuan tenaga kerja anak, pekerja pertanian, serta
mereka yang dipekerjakan oleh pengecer besar tertentu dan perusahaan jasa.
4. Equal Pay Act 1963 (Undang-undang Pembayaran yang sama)
Merupakan undang-undang
standar kerja yang adil, menetapkan bahwa karyawan dari satu jenis kelamin
tidak boleh dibayar dengan tarif lebih rendah dari yang dibayarkan pada jenis
kelamin lain untuk melakukan pekerjaan yang pada dasarnya sama. Khususnya jika
pekerjaan itu menuntut keterampilan, usaha, dan tanggung jawab dan dijalankan
dibawah kondisi kerja yang sama, karyawan dari kedua jenis kelamin harus
dibayar sama kecuali kalau pembayaran itu didasarkan pada sistem senioritas,
sistem jasa, kuantitas atau kualitas produksi, atau faktor apa saja selain
jenis kelamin.
5. Civil Rights Act 1964 (Undang-undang Hak Sipil)
Undang-undang ini mengatur
praktik employment yang dilakukan seorang majikan dengan mendiskriminasi
individu mana saja sehubungan dengan penerimaan tenaga kerja, kompensasi,
persyaratan, kondisi, atau hak istimewa employment karena ras, warna kulit,
agama, jenis kelamin, atau negeri asal.
6. Employee Retirement Income Security Act 1974 (Undang- undang Keamanan
Pendapatan Pensiun Karyawan).
Undang-undang
yang memberikan perlindungan pemerintah atas pensiun untuk semua karyawan
dengan rencana pensiun perusahaan. Juga mengatur hak-hak tetap karyawan yang
keluar sebelum pensiun bisa mengklaim kompensasi dari rencana pensiun.
7. The Tax Reform Act of 1986 (Undang-undang Reformasi Pajak)
Undang-undang ini mengatur
tarif pajak individual, sehingga mempengaruhi peningkatan tunjangan karyawan
rakyat jelata, sementara pengurangan tunjangan yang tinggi bagi karyawan yang
mendapat imbalan tinggi.
Hukuman
Hukuman
adalah pemberian suatu kejadian (tindakan) yang tidak disukai atau penghapusan
suatu kejadian positif setelah adanya tanggapan yang mengurangi frekuensi
tanggapan sebelumnya.
E.L.
Thorndike (reward and punisment in animal learning, Contemporary psychological
Monograph, 1883,8,no.39). mengemukakan bahwa hukuman memaksakan dampaknya atas
perilaku dengan melemahkan hubungan antara stimulus dan tanggapan (respone)
selanjutnya ia meninjau ualng tentang pernyataannya tersebut.
Hukuman
merupakan hasil yang tidak diinginkan (menyakitkan) untuk mengeleminir prilaku
yang tidak diinginkan tersebut (Indiryo Gitosudarmo dan I Nyoman Sudita, 1997)
BF Skinner
yang dikutip oleh Indiryo Gitosudarmo dan I Nyoman Sudita, (1997) mengemukakan
bahwa sebenarnya hukuma bukan merupakan cara yang efektif bagi manajer untuk
merubah perilaku. Beberapa alasan yang dikemukakan mengapa hukuman tiedak
efekti dalam mengubah perilaku. Hukuman hanya mempengaruhi perilaku yang
bersifat sementara dan tidak berlangsung
lama.
Pengaruh Hukuman dalam Kinerja Organisasi
Dengan adanya
hukuman maka akan meningkatkan disiplin kerja yang dapat mempengaruhi kinerja
karyawan. Karena dengan memilki disiplin kerja yang tinggi maka seorang
karyawan akan melaksanakan tugas atau pekerjaannya dengan tertib dan lancar
sehingga hasil kerjanya (kinerjanya) akan meningkat serta akan berdampak pula
pada tujuan perusahaan yang dapat dicapai secara optimal.
Daftar
pustaka
Ardana,
Komang dan Ni Wayan Mujiati dan Anak Agung Ayu Sriathi Perilaku
Keorganisasian. Yogyakrta : GRAHA ILMU, 2009.
Suwarto FX, perilaku keorganisasian. Yogyakarta : Universitas Atmajaya,
1999
Sunday, 28 April 2013
Pengambilan keputusan dalam organisasi
Definisi
Proses
pengambilan keputusan merupakan hal yang saangat kruasial di dalam organisasi.
Seringkali organisasi harus menentukan keputusan terhadap berbagai macam hal
secara tepat dan akurat. Apabila keputusan yang diambil tidak tepat, maka
keberlangsungan organisasi bisa terancam.
Pengambila
keputusan secara universal di definisikan sebagai pemilihan di antara berbagai
alternatif. Pengertian ini mencakup baik pembuatan pilihan maupun pemecahan
masalah. Dalam bukunya The Functions of the Executive, Bernard memberikan
perlakuan analitis pengabilan keputusan yang menyeluruh dan menyatakanbahwa
proses pengambilan keputusan sepenuhnya merupakan perapan teknik-teknik untuk
penyempitan pilihan. Menurut Driscoll (1978), partisipasi dalam pengambilan
keputusan berhubung dengan efficacy.
Efficacy sendiri di definisikan sebagai perasaan atau anggapan bahwa
seseorang mampu untuk mempengaruhi pembuatan keputusan dalam organisasi.
Proses pengambilan keputusan
Pengambilan
keputusan, merupakan proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih, di mana
hal ini mencerminkan alternatif tindakan terbaik bagi penyelesaian masalah.
Proses pengambilan keputusan mencakup beberapa langkah .
Langkah-langkah
dalm proses pengambilan keputusan
Hampir
semua pembahasan proses pengambilan keputusan selalu memerincinya nserangkaian
langkah yang berurutan. Menurut-Herbert A Simon, proses pengambilan keputusan
pada hakekatnya terdiri atas tiga langkah utama ,yaitu:
1.
Kegiatan
intelijen. Di bawa dari pengertian intelijen yang digunakan militer, langkah
awal ini menyangkut pencarian berbagai
kondisi lingkungan yang di perlukan bagi krputusan.
2.
Kegiatan
desain. Dalam tahap kedua ini, pembuatan, pngembangan dan penganalisaan
berbagai rangkain kegiatan yang mungkin dilakukan,
3.
Kegiatan
pemilihan. Tahap ketiga dan terakhir adalah pemilihan serangkaian kegiatan
tertentu dari alternatif-alternatif yang tersedia.
Robibins
dan Jude (2009) menghubungkan proses pengambilan keputusan dengan persepsi.
Egitu pula dalam hal partisipasi dalam pengambilan keputusan yang erkaitan
dengan efficacy yang tak lain merupakan persepsi seseoranng akandirinya
sendiri. Jadi keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan di dalam
organisasi ditentukan oleh persepsi individu terhadap dirinya sendiri.
Faktor-faktor
pengambilan keputusan
1. Posisi/ kedudukan
Dalam kerangka
pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam hal
berikut.
-
Letak posisi; dalam hal
ini apakah is sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu
keputusan (decision taker) ataukah staf (staffer).
-
Tingkatan posisi; dalam
hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional,
operasional, teknis.
2. Masalah
Masalah atau problem
adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan
penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan
harus diselesaikan.
3. Situasi
Situasi adalah
keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan
yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang
hendak kita perbuat.
Faktor-faktor
itu dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut.
– Faktor-faktor yang konstan (C), yaitu faktor-faktor yang sifatnya tidak berubah-ubah
atau tetap keadaanya.
– Faktor-faktor yang tidak konstan, atau variabel (V), yaitu faktor-faktor yang sifatnya
selalu berubah-ubah, tidak tetap keadaannya.
4. Kondisi
Kondisi adalah
keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak,
daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut
merupakan sumber daya-sumber daya.
5. Tujuan
Tujuan yang hendak
dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi,
maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan. Tujuan yang
ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objective.
Daftar
Pustaka
Hanggraeni,
Dewi PERILAKU ORGANISASI teori, kasus dan analisis. Jakarta : Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sunyoto,
Danang dan Burhanudin Perilaku
organisasional. Yogyakarta: CAPS (2011).
Reksohadiprodjo,
Sukanto dan T. Hani Handoko ORGANISASI PERUSAHAAN Teori, struktur dan perilaku.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Komunikasi dalam Organisasi
Definisi
Komunikasi organisasi sebagai
salah satu bidang kajian ilmu komunikasi, selalu menjadi fenomena yang
senantiasa aktual untuk didiskusikan, sejalan dengan semakin banyaknya
tantangan dan ....... organisasi itusendiri. Sebelum kita membahas pengertian
komunikasi organisasi, sebaiknya kita uraikan terminologi yang melekat dalam
konteks komunikasi organisasi, yaitu komunikasi dan organisasi. Komunikasi
berasal dari ahasa Latin “Communis” atau “common” dalam bahasa
Inggris yang berarti sama. Berkomuikasi berarti itu kita sedang berusaha untuk
mencapi kesamaan makna, “commonness”. Atau dengan ungkapan yang lai, melalui
komunikasi kita mencoba berbagi inforasi, gagasan atau sikap kita dengan
partisipan lainnya. Kendala utama daam berkomunikasi adalah kita seringkali
mempunyai makna yang berbeda terhadap lambang yang sama. Oleh karena itu,
komunikasi seharusnya dipertimbangkan sebagai aktivitas di mana tidak ada
tindakan atau ungkapan yang di beri makna secara penuh, kecuali jika
diinterprestasikan oleh partisian komunikasi yang terlibat, demikina pengertian
komunikasi yang diberikan Kathleen K. Reardon dalam buku Interpersonal
Communication, Where Minds Meet (1987).
Everet M. Rogers dalam bukunya
Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem
yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui
jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern
Business : A Sytem Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana
manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan suber daya manusia melalui pola
struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.
Beberapa paka memberi batasan
tentang komunikasi organisasi sebagaimana dirangkum oleh Dr. Arni Muhammad (2004:65-67) sebagai berikut :
Redding dan Sanbon mengatakan
bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan enerimaan informasi dalam
organisasi yang kompleks. Katz dan Khan mengatakan bahwa komunikasi organisasi
merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan... dalam suatu organisasi
. zelko dan Dance mendefinisikan komunikasi organisasi dengan suatu sistem yang
saling tergantung yang mencakup komunikasi internal dan eksternal.
R. wayne Pace dan Don F.
Faules (2001:31-33) mengemukakan definisi komunikasi organisasi dari dua perspektif
yang berbeda. Pertama, perspektif tradisional ( fungsional dan objektif ),
mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan
di antara unit-unit komunikasi yang meruakan bagian dari suatu organisasi
tertentu. Kedua, perspektif interpretif ( subjektif) memaknai komunikasi
organisasi sebagai proses penciptaan makna atas interkasi yang merupakan
organisasi.
Proses Komunikasi
Dalam datara teoritis, kita mengenal atau
memahami komunikasi dari dua perspektif, yaitu perspektif kognitif dan
perilaku. Komunikasi menurut Colin Cherry, yang mewakili perspektif kognitif
adalah penggunaan lambang-lambang (symbols). Untuk mencapai kesamaan makna atau
berbagi informasi tentang satu objek atau kejadian. Informasi adalah suatu (fakta,
opini, gagasan) dari suatu partisipan kepada partisipan lain melalui penggunaan
kata-kata atau lambang lainnya.
Sementara B.F. Skinner dari
perspektif perilaku memendang komunikasi sebagai perilaku verbal atau simbolik
di mana sender berusaha mendapatkan suatu efek yang dikehendakinya pada
reciver. Proses komunikasi dalam suatu organi sasi, menurut Jerry W. Koehler
dan kawan-kawan, bagi suatu organisasi , perspektif perilaku dipandang lebih
praktis karena komunikasi dalam organisasi bertujuan untuk mempengaruhi penerima
dari setiap pesan yang disampaikannya.
Daftar pustaka
Syaiful Rohim, Haji Teori
komunikasi: perspektif, ragam da aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Sunyoto, Danang dan Burhanudin
Perilaku Organisasional. Yogyakarta: CAPS, 2011.
Subscribe to:
Posts (Atom)